Oleh Nurprihatin, Psi
Alumni UI & Direktur Lembaga Konsultasi Psikologi SINTESA, Serang
Keluarga adalah lingkungan pertama dan terdekat yang sangat berperan dalam perkembangan anak. Dalam hal ini, orangtua memegang peranan yang sangat penting dan menjadi guru terbaik. Apapun yang dilakukan orangtua sangat berpengaruh dalam diri anak.
Keteladanan orangtua, baik dalam hal beragama maupun berperilaku adalah kunci utama dalam membina moral anak saat ini maupun di masa depannya. Oleh karena itu, bila seseorang sudah menikah, lalu memiliki anak sehingga statusnya berubah menjadi “orangtua “, ia tidak boleh sembarangan bersikap dan berperilaku. Sebab sudah menjadi tokoh panutan bagi anak- anaknya.
Perilaku yang ditampilkan seorang anak merupakan hasil dari proses belajar, sementara cara belajar yang paling mudah bagi anak adalah meniru. Biasanya kemampuan meniru dimulai sekitar usia satu tahun dan lebih terlihat lagi ketika mulai berusia dua tahun.
Anak mulai dapat meniru perilaku di sekitarnya ketika ia mulai menyadari adanya orang lain selain dirinya dan sudah mampu melakukan pengamatan terhadap lingkungan. Perilakunya belum tentu muncul saat ia mengamati, bisa saja muncul ketika ada situasi yang pas untuk melakukannya.
Pada usia satu atau dua tahun, kemampuan yang berkembang pada anak baru sebatas kemampuan mengamati dan meniru perilaku saja. Mereka tidak memahami bahwa perilaku itu benar atau salah, baik atau buruk. Perilaku yang paling mudah ditiru adalah perilaku yang sering dilihat.
Disamping itu, konsekuensi hadiah atau hukuman yang diterima anak ketika melakukan peniruan turut memegang peranan. Misalnya, jika anak ditertawakan ketika mengucapkan kata- kata yang “kotor”, anak belajar bahwa mengucapkan kata- kata kotor itu sesuatu yang lucu dan merupakan perilaku yang diterima lingkungan.
Sebagai orangtua, kadang secara tidak disadari malah memperkuat perilaku yang salah yang sebenarnya ingin dihilangkan, misalnya dengan memberi perhatian. Perhatian, yang merupakan hadiah (reward-red ) bagi anak, dapat berupa pujian, ditertawakan atau bahkan dipelototi.
Perilaku yang ditiru anak, bisa hilang seiring dengan bertambahnya usia, tetapi bisa saja menjadi kebiasaan yang menetap hingga dewasa. Perilaku yang ditiru dari orangtua, baik berupa perilaku benar atau salah, membutuhkan waktu untuk merubah kebiasaan buruk yang sudah menjadi kebiasaan. Jadi, untuk membentuk perilaku yang buruk menjadi baik kembali, butuh waktu yang tidak sebentar.
Beberapa perilaku buruk orangtua yang mudah ditiru anak, misalnya :
- Berbohong
Misalnya, ketika ada telepon untuk ibu, dan ibu enggan menerima telepon, ibu menyuruh anak untuk mengatakan bahwa ibu sedang pergi. Anak belajar bahwa berbohong itu suatu hal yang wajar dilakukan.
- Buang sampah sembarangan
Anak meniru orangtua yang membuang sampah tidak pada tempatnya. Hal ini juga berkaitan dengan keindahan dan kebersihan.
- Memukul
Jika orangtua sering memukul untuk menyelesaikan konflik, tidak mustahil anak akan menerapkan perilaku memukul setiap kali menghadapi konflik.
Berikan Tauladan Pada Anak
Selain perilaku buruk, banyak juga perilaku baik yang jadi panutan anak. Sebagai teladan, sebaiknya orangtua memberi sebanyak mungkin contoh perilaku yang baik, misalnya :
- Memberi maaf
Jika ada orang yang berbuat salah, dan sudah meminta maaf, biasakan tidak mengungkit- ungkit lagi kesalahan orang tersebut.
- Berbagi
Biasakan budaya berbagi di rumah. Misalnya, bergantian menonton TV ( setelah ibu menonton berita, anak boleh menonton film kartun. Ibu tidak memaksakan kehendak, tapi mendiskusikannya terlebih dahulu kepada anak )
- Empati
Tunjukkan empati kepada anak. Sama seperti halnya orang dewasa, anak- anak senang menerima empati. Membesarkan anak dengan penuh empati mendorong pertumbuhan emosi yang sehat. Dengan empati, anak memahami perasaan orang lain, mampu membina hubungan dan diterima orang lain.
- Membaca
Jika anak sering melihat orangtua membaca, anak melihat bahwa membaca adalah kegiatan yang menyenangkan.
Masih banyak lagi perilaku baik atau buruk yang sering ditiru anak. Sebagai orangtua, tentunya kita ingin memberikan yang terbaik untuk anak. Alangkah bijaknya bila kita mulai memikirkan perilaku yang dapat berdampak buruk pada anak. Mulailah dengan mengubah perilaku diri sendiri yang kita anggap buruk dengan perilaku yang baik dalam kehidupan sehari- hari. Peribahasa “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya “ menggambarkan betapa perilaku anak mirip dengan perilaku orangtuanya. Bukan karena keturunan, karena anak bagaikan “tabula rasa “, kertas putih bersih, melainkan karena anak belajar melalui meniru dan konsekuensi yang didapatnya. Ingat, orangtua adalah teladan terbaik bagi anak- anaknya.
